Showing posts with label romance. Show all posts
Showing posts with label romance. Show all posts

Friday, June 19

biasa


hari biasa udah biasa lupain dia yang biasa

biasa juga buka album nya yang biasa di facebook biasa

liat fitur fiturnya yang biasa buat aku kesemutan

dari cuek jadi biasa melankolis

dari melankolis biasanya jadi menyedihkan

udah deh, udah biasa kayak gini

biasa ngiler sambil inget masa lalu yang benernya biasa



~Aris Lazuardi
......





Wednesday, June 3

Now & Forever

Aris Lazuardi,


sometimes we just want to skip some parts of our lifes.
to forget all the things that going around.
everythings.


"this part of my life is wasting my time ! I want to go there ! as soon as possible !"
maybe, this sound familiar for us.

few months ago, when we were mad, when we bottled up about cram school, about national exams.

remember that time ?

we skipped school, we went to McD in school time, we laughed out loud.

I miss that time. really.


and, this post. I dedicated to everyone, that have same obsession with me. Past.


the same feeling. We just miss it.
it sounds silly, but let me take you.

take you to our super moment. coz, we are friends forever.





Friends Forever (graduation song) - Vitamin C




And so we talked all night about the rest of our lives
Where we're gonna be when we turn 25




I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same





But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out cause we're on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don't have another day





Cause we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn't know much of love




But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone




We'd get so excited, we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair
And this is how it feels



As we go on
We remember
All the times we
Had together





And as our lives change
Come Whatever
We will still be
Friends Forever




Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule




And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round?




Will these memories fade when I leave this town
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly





We will still be friends forever...



friends forever...



Friends forever....

Monday, April 27

tulisan tembok



............................

aku sudah lelah berbicara panjang.


menyerah pada detik-detik yang terlewati tanpanya.

yang menghabiskan nafasku, mempersingkat umurku.

yang tak hentinya menusukku dari setiap setiap lapisan udara.

yang selalu bertanya padaku,

kapan aku menyerah atasnya ?


dan dari setiap pertanyaan itu, aku selalu bergemuruh,

menjawab pertanyaan itu dengan sigap, berkata keras, lancang

tidak ada setiap waktuku yang terbuang percuma,

setiap desakan detiknya, mendorongku untuk lebih jauh lagi.

lebih jauh lagi mengingat bayangnya.

dan lebih jauh lagi terpaksa bersembunyi.


Kenapa kita tidak mampu kembali ke masa lalu ?

satu pertanyaan yang tertulis di tembok kamarku.


dengan sekali pejaman mata, aku mampu kembali ke masa lalu.

dengan sekali pejaman mata, aku mampu meraih mimpi itu.

dengan sekali pejaman mata, aku berada di atas angin, terjebak mimpi.

dan dalam tersadar, aku kembali mendapat kenyataan.

aku tidak menggenggamnya.


berkali-kali sudah terantuk batas, merangkai setiap memori tersisa

menyisakan semua kenangan, menarik rasa dari tempatnya.


tapi memang sudah tersimpulkan,

bukan gila,

tapi aku hanya seorang pria yang tertinggal di masa lalu.

mencari seseorang.

di suatu masa bertema IDEAL.






~Aris Lazuardi




Tuesday, April 7

jawaban janji

Sudah cukup lama aku berjalan mencari sesuatu. Orang-orang melihatku sambil mencoba

menebak-nebak apa yang kulakukan. Dalam cuaca panas seperti ini, seharusnya mereka semua

tidak mempedulikan apa yang terjadi pada orang lain. Mereka sepatutnya mengkhawatirkan

kondisi mereka sendiri. Tapi daya tarik yang kukeluarkan, jauh lebih besar daripada kesusahan

yang mereka rasakan. Tentu saja aku tidak semudah itu memperlihatkan maksudku, aku tidak

memperlihatkan rasa khawatirku pada orang-orang yang mengamatiku. Aku tidak membiarkan

mereka menebak perasaanku, atau apa tujuanku. Karena, sebenarnya. Aku juga belum

mengetahui apa yang akan muncul, dari susunan anak tangga itu.



Menurut perhitunganku, memang sudah seharusnya dia muncul. Waktu sudah memaksa kami

untuk berkumpul lagi. Sudah memaksa kami untuk membuka memori di masa lalu, sebuah janji

yang harus tergantung di balik waktu.

Dan aku tetap menunggunya di atas jembatan ini, sambil memandang lautan yang tertimpa garis

langit.




“apa yang dari tadi, kau…”, seorang pria berumur setengah abad menegurku. Bau

rokok kretek yang kuat, membayang di nafasnya.


“kau… sebenarnya,apa yang kau lakukan ?”, pria itu menyelesaikan kalimatnya.



Aku belum mendapatkan maksud dari perkataan pria itu. karena pikiranku masih tertinggal

jauh di ujung lautan. Memandang sebuah senja yang dihiasi langit yang terbakar.




“maaf, maksud anda … ?”, aku mencoba mengambil kembali isi kepalaku.


“ya, apa maumu ? dari tadi siang aku memperhatikanmu… sepertinya kau menunggu

seseorang ?”, pria tua itu memandangku dengan kuat, melihatku melalui dua bola

matanya yang telah dimakan katarak.


“dari yang kulihat, sepertinya aku baik baik saja…”, aku menutupi keadaanku.


Kenapa ? tentu saja, karena aku memang tidak suka masalahku diurusi oleh orang

lain.


“anak muda sepertimu, berdiam diri selama berjam-jam diatas jembatan ini, itu

sangat membuat orang tua sepertiku menjadi gelisah.”, orang tua itu mencoba

menggaliku, dengan menggambarkan kondisinya.


“apa yang membuatmu resah ? aku bahkan tidak melihatmu dari tadi, apa kau masih

hidup ?”, aku mengeluarkan pernyataan yang jelas jelas menunjukkan, bahwa aku

tidak suka diganggu.


“ada dua kemungkinan, kenapa ada anak muda sepertimu bisa betah berlama-lama

di tempat seperti ini.”, dia memulai teori yang biasa dikemukakan orang tua. Teori

bodoh yang mengatasnamakan pengalaman hidupnya.


“sadarlah nak, ini tempat untuk orang tua ! orang-orang seumurku menghabiskan

waktunya di tempat seperti ini, untuk menyimpan kenangan indah akan dunia,

sebelum kita mati! Sedangkan, kau harusnya masih memiliki banyak kesempatan

untuk melihat banyak hal lain, selain matahari bodoh dan langit yang tak kunjung

runtuh !”, kakek ini kelamaan membuat perutku mual. Firasatku mengatakan dia

adalah seorang mantan penyair, atau mungkin terobsesi menjadi penyair.


“ya, ya, lalu menurutmu, apa yang terjadi denganku ? sehingga aku memutuskan

untuk berdiam diri di tempat ini ? keluarkan jawaban yang menurutku bagus, lalu

aku akan menceritakan semuanya padamu.” , aku mencoba mengujinya. Apakah

pengalaman hidupnya, bisa menebak jalan hidupku.


“sederhana, kau sedang menunggu gadis yang sepertinya tidak akan pernah

datang.”, dia menjawab pertanyaanku dengan tepat.


Aku benci orang tua ini. pikirku.



….. …..



Matahari semakin meninggi, meninggalkan lautan di bawahnya. Sinarnya menerangi langit,

membakar jalan, dan mengukir keringat.

Kepalaku terasa pusing, menunggu sebuah bayangan untuk tiba di atas jembatan ini. Sementara

pandanganku melemah, dilumpuhkan sinar matahari, aku mencoba berteduh di pinggiran jalan.

Kali ini aku tidak menunggu sendirian. Anak muda dengan seorang tua, mencoba berdiskusi

tentang sebuah kenyataan alam. Wanita, dan kejadiannya.


“pernah menanti selama ini sebelumnya ?”, pertanyaan mudah bagiku.


“belum.”, aku menjawab singkat.


“kamu yakin bahwa gadis itu menyukaimu ?”, pertanyaan mudah yang kedua.


“bukan menyukaiku, dia menyayangiku, untuk seumur hidupnya.”, jawabku yakin.


“dan, kamu menyukainya ?”, kakek itu lagi-lagi bertanya. Tapi kali ini

pertanyaannya terdengar bodoh.


“selama aku sanggup, aku akan menyayanginya.”, kujawab jujur.


“maksudmu, kamu tidak sanggup untuk menyayanginya seumur hidupmu ?”, nada

bicara kakek ini terkesan sedikit meninggi.


“untuk seumur hidupku, aku sanggup. Tapi setelah aku mati, mungkin aku tidak

sanggup lagi.”, kujawab sekenanya.


“mati ? kenapa kau harus mati ?”, lagi lagi pertanyaan bodoh.


“saat aku tua nanti, dan menjadi sepertimu, aku akan mengalami kehidupan

menyedihkan, dimana aku harus berjalan menggunakan tongkat, memakai kacamata

untuk membaca, dan akan digerogoti penyakit, kemudian mati dengan indahnya.”,

begitu jawabku.



Aku terkesan dengan jawabanku sendiri.




“itu adalah proses sebelum kau mati, yang aku tanya, kenapa kau harus mati ?”,

kakek ini terlihat tidak menghargai jawaban yang kuberikan.


“entahlah, mungkin karena aku telah ditinggalkan seseorang.”, mulutku bergerak

sendiri, saat aku menjawab hal ini.


Mulai dari sini, pandanganku kembali menerawang jauh. Melihat bentuk-bentuk awan yang

mengambang di angkasa. Mencoba menangkap sinar matahari yang menembus dunia, mencoba

meresapi belaian angin yang hangat. Sejenak, aroma gadis itu muncul di ingatanku. Gadis itu

memiliki sesuatu, yang selalu membuatku memandangnya kemanapun ia pergi. Caranya dia

berjalan, terlihat mengagumkan. Dan saat dia tersenyum, aku jatuh cinta padanya. Selamanya.




“sampai berapa lama kau berniat menunggu gadis ini ?”, pertanyaan kakek ini

membuyarkan bayanganku.


“dalam satu hari ini, aku akan menyelesaikan semuanya.”, kujawab dengan mantap.

Tanpa nada takut sedikitpun.


“bagaimana jika kau menceritakan padaku, tentang gadis itu ?”




……….



Tidak ada pria di dunia ini, yang masih bisa menangis setelah cintanya seumur hidup. Akhirnya

berada di depannya. Mengamatinya dengan tekun, menatap kedua bola matanya dengan

pandangan dalam. Mencoba menggali setiap lekuk perasaannya, yang isinya jelas mengatakan,

bahwa lelaki itu menyayangi seseorang di depannya. Gadis itu tersenyum, tipis.




Aku tidak pernah berhenti terkesan, saat mengamati gadis itu. Biarpun gadis itu hanya

menunjukkan senyum tipisnya padaku. Aku sudah bisa terbang tinggi. Perasaanku saat ini,

persis seperti seorang anak kecil, yang gembira mendapatkan sepeda pertamanya. Barang yang

sudah lama diimpikan, akhirnya berada di depan anak kecil itu, sebagai miliknya. Dan aku,

adalah anak kecil itu. Seorang pemimpi yang akhirnya mendapatkan sesuatu dari balik

mimpinya.




“sampai kapan kamu mau melihatku seperti itu ?”, senyuman tipis gadis itu, berubah

menjadi kata kata yang membuyarkan duniaku.


“sampai wajahmu berlubang.”, aku mencoba membuat gadis itu mengeluarkan

ekspresi, lebih dari senyuman tipisnya.


“kadang kamu bisa begitu mengesalkan.”, gadis itu malah mengerinyitkan dahinya.

Aku gagal membuatnya tersenyum.


“dan sering, kamu membuatku tersenyum.”, kucoba lagi untuk membuatnya

tersenyum.



Gadis itu menjulurkan lidahnya. Tampangnya mencoba menghinaku, seakan-akan dia tidak

butuh rayuan dariku. Tapi dia tidak selihai itu. Aku tahu, bahwa dalam hatinya dia tersenyum

padaku.


Aku memasukkan tanganku ke dalam kantongku. Memegang erat sebuah kotak kecil. Mukaku

terlihat menegang saat meraba kotak itu, sebuah kotak yang berisi modal kehidupanku. Aku

ingin melamarnya saat ini. Dengan cincin ini.


“ada apa denganmu ? perutmu sakit ?”, gadis itu bertanya padaku. Sayang

pertanyaannya terdengar tidak nyaman di telinga.


“mungkin ya, tapi mungkin ada sesuatu yang lebih rumit dari sakit perut.”, aku

mencoba menutupi keadaan.



Aku masih berpikir, lebih tepatnya mencari sebuah cara untuk menyerahkan cincin ini.

jantungku berdetak cepat, memompa darah ke seluruh tubuhku. Telingaku berdengung keras,

menandakan bahwa adrenalinku sedang terpacu deras. Tanpa sadar, aku terbatuk.




“ada apa denganmu ?”, gadis itu bertanya padaku. Mukanya terlihat khawatir.


“Tidak ada apapun, memang ada yang aneh dengan sebuah batuk ?”, aku mencoba

menutupi kecemasanku.


“bukan batuk ! tapi raut mukamu ! keringatmu tiba tiba mengucur deras !”, gadis itu

menaikkan nadanya, kata demi kata.



Aku merasa bodoh. Tidak kusangka, isi hatiku yang gelisah, bisa terpampang jelas di raut

wajahku. Jauh di dalam hatiku, aku lega. Tentunya karena ini saat yang tepat untuk

menyerahkan cincin ini. Dan melamarnya.




Kukeluarkan cincin itu dari kotaknya. Dan aku menunggu reaksi pertama darinya.




“kau bercanda.”, reaksi yang dikeluarkannya mementahkan seluruh keberanianku.


“tidak, tentu aku serius.”, kujawab cepat, mantap.


“kau mau aku menikahimu ?”, dia bertanya, ragu.


“bukan hanya itu, tapi untuk mencintaiku seterusnya, hingga rambut putih

terakhirku telah sirna menjadi abu.”, kuturunkan nadaku di kata-kata terakhir,

mungkin terdengar pelan baginya.



Dia terdiam. Lama .




….. …..



“jadi, apa yang menyebabkanmu yakin, u

ntuk melamarnya sebagai istrimu ?”, pria tua ini menghentikan ceritaku tiba-tiba.


“dia terlalu sempurna bagiku, aku takut bahwa suatu hari nanti, akan ada pria lain di

hidupnya.”, jawabku.



Kulihat pria tua itu tiba tiba tertawa pelan. Kacamata yang digunakannya terlihat bergoyang,

saat dia membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa. Dia berhenti tertawa, dan berdeham

kencang.




“maaf, aku hanya teringat sesuatu yang lucu.”, dia mengeluarkan pernyataan itu

sembari memandang jauh ke arah lautan. Dan menyelesaikan tawanya yang

tertinggal.


“satu yang kudapat dari ceritamu, kau hanya takut kehilangan gadis itu, padahal kau

sama sekali tidak mengenalnya dekat.”, pria itu meneruskan kata-katanya.


“aku mengenalnya dekat. Sangat dekat. Hanya dia yang melarangku untuk lebih

dekat lagi.”, aku menjawab dengan ketidak-pastian. Tentu saja, karena setengah dari

diriku setuju akan perkataan pria itu.



Aku

memang tidak mengenalnya terlalu dekat.




……….



Waktu berlalu sangat lama. Aku mencoba menghabiskan waktuku dengan mengamati sekitarku.

Pelan-pelan aku menyadari bahwa ada seorang penyanyi yang berada di sebuah panggung kecil,

diiringi lantunan kunci-kunci piano. Suara

penyanyi itu membaur dengan indahnya dalam suasana malam ini, membuatku sadar, bahwa

aku sedang menunggu sesuatu.




Aku menunggu sebuah jawaban. Hingga, akhirnya gadis di depanku menjawab.




“maaf, aku benar-benar tidak bisa menjawabnya saat ini.”, jawabannya membuatku

semakin jatuh ke bawah.


“Kenapa ? Aku tidak pantas untukmu ? Aku tidak pantas untuk mencintaimu sampai

mati?”, aku bertanya cepat, mencoba mendapatkan sebuah jawaban darinya.


“bukan, tapi aku takut akan keadaanku sendiri ! aku tahu, sangat tahu ! bahwa kau

pasti akan menyayangiku seperti nyawamu sendiri !”, gadis itu mulai menjawab

dengan nada membentak. Dia mengambil tasnya, mencoba beranjak pergi.


“Jika aku tidak pantas bersanding denganmu, maka berikan aku jalan lain untuk

tetap hidup !”, kugenggam erat tangannya. Aku tidak pernah menggenggam

tangannya seerat ini, tidak pernah melukainya sedalam dia melukaiku saat ini. Tapi

apapun yang terjadi sekarang, hanya satu yang kuminta. Jawaban.


“Kau bukan tidak pantas bersanding denganku ! tapi aku tidak bisa memberikan

jawabanku saat ini ! jangan membuatku membencimu !”, dia menaikkan nadanya.

Lagi.


“lalu kapan ?”, jelas sekali, mataku mulai berkaca-kaca.


“bulan depan, lihatlah ke seberang lautan, maka aku akan ada disana, dan

memberikanmu sebuah jawaban !”, dia menyelesaikan kata-katanya, dan pergi.



Dan itu terakhir kali aku melihatnya.




……….



“Sepertinya aku sudah tahu tujuanmu

berada disini.” Suara berat pria itu, membayang di tengah kencangnya angin pesisir.


“Ya, dan kukira ini saatnya bagimu untuk bercerita.”, aku mencoba mencairkan

suasana dengan pria tua itu. Aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku dengan

berbincang sedikit dengannya.


“Aku juga memiliki satu tujuan, dengan berada di tempat ini.”, pria tua itu berkata

pelan. Dan tiba-tiba dia mengambil sebungkus rokok dari kantong celananya.


“Seingatku orang tua tidak sepantasnya untuk merokok.”, aku bercanda ringan.


Ada saat-saat tertentu, dimana orang tua sepertiku akan mengeluarkan kebiasaan

masa mudanya lagi.” Dia mengucapkan kata katanya, dengan matanya yang tajam

mencoba menatapku.



Angin dingin mulai bertiup di sini. Matahari tidak lagi berada di atas kepala, tapi sudah jauh

beranjak pergi dari tempat kekuasaannya. Di ujung langit sore, cahaya matahari tampak

memecah cakrawala, langit berwarna oranye, dan lautan menjadi tenang. Sementara asap rokok

keluar dari mulut sang pria tua. Aku mendengarkan kisah pria tua ini.




“ Cucuku menyuruhku ke tempat ini, beberapa minggu yang lalu, sebelum dia

menjalani operasi cangkok jantungnya.”, dia berkata pelan, sambil memandang jauh

ke tengah lautan.


“dan kamu menepatinya, kau benar-benar kakek yang baik.”, aku berkata ringan.


“tentu saja aku harus menepatinya, karena dia tidak bisa menepati janjinya dengan

seseorang di tempat ini….”, kakek itu menghentikan perkatannya tiba tiba.


“apa yang terjadi dengan cucumu ?”, aku bertanya padanya.


“sejak operasi itu, dia masih belum sadar hingga saat ini.”, dia menundukkan

kepalanya.


“jadi, jelaskan apa yang dikatakan cucumu, mungkin itu adalah sesuatu yang

kutunggu seharian ini.”, kalimatku ini menandakan satu bagian di cerita ini.


“dia meminta maaf, khususnya pada seorang lelaki yang menunggunya di tempat

ini.”, pria tua itu menegakkan kepalanya lagi.


“katakan padanya bahwa aku memaafkannya.”, aku memegang keningku. Menahan

tangis.


“dan, ada satu hal yang ditekankannya, dia ingin menjadi istrimu, kelak, saat dia

bangun dari istirahatnya yang panjang.”, dia menyelesaikan ceritanya di kalimat ini.

aku yakin.



Dan,

cahaya matahari sore menyilaukanku, membuatku menyipitkan mataku. Air mataku

berjatuhan, membasahi leher ku. Membasahi tanah ini. Dunia ku berada di ujung jembatan ini, di

sebuah sudut bernama ketidakpastian. Menunggu seseorang yang kucintai, untuk menyambut

tanganku disini. Di tempat yang dia janjikan.




“sadarlah, dia tidak ada disini hari ini, dan esok juga. Satu tahun ini, kau sudah

menghabiskan waktumu di tempat ini. menunggu Senja tiba.”, kakek dari gadis itu,

mencoba menasihatiku.


“tapi aku akan selalu berada disini. Menunggu tangannya menjemputku dari tempat

ini. Selalu disini.”, aku berkata tulus.



Dan walaupun aku menghabiskan waktuku bertahun-tahun di tempat ini. Walaupun kakek itu

selalu mengajakku berbicara setiap aku menunggu. Walaupun berkali-kali aku menangis setelah

mendengar cerita sesungguhnya. Aku tetap disini, membatu hingga gila. Demi sebuah janji

darinya, untuk kami.


~Aris Lazuardi

Sunday, April 5

PENGORBANAN

Ada satu masalah yang aku jarang membicarakannya di Blog ini.
tapi sekarang, aku pengen membicarakannya.

oke,
kita semua pernah merasakan. satu hal yang namanya menyukai seseorang.
entah kita sayang, ato cuman suka suka biasa ama orang itu.

apapun gayanya, tetep aja ada satu komitmen. yang kita harus pegang, saat kita sedang mengalami hal itu.
satu aja yang pasti, kita emang harus berkorban.

bagi beberapa orang, berkorban itu sulit sekali.
saya termasuk dalam salah satu jajaran orang sulit berkorban.
saya tidak malu mengakuinya. karena memang (jujur) kadang kadang saya merasa agak malas untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna bagi saya...

oke, kenapa harus berkorban ?

jadi, contoh sederhana aja.
saat kita mengejar orang yang kita suka.
kadang, kita perlu untuk memberikan waktu, pada orang itu.
kita ga boleh terus terusan menghubungi orang itu,
terus terusan ngajak sms dia, ngajak chatting dia, ato nelpon dia.
tentu aja, supaya dia merasa, dia masih ngerasa punya ruang di hidupnya sendiri.

lagi pula, cara itu juga bakal buat dia, jadi penasaran ama kita....
:-)


nah,
setidaknya. sekarang anda mungkin sudah mendapat sedikit gambaran tentang berkorban.
mungkin, bagi kalian yang baca blog ku kali ini. rada jijik dengan topik ini.
tapi relakan saja, karena saya lagi pengen bahas ini...

nah, (nah yang kedua)
kemarin malem, saya dipaksa untuk melakukan hal yang saya tidak sukai ini.
kemaren malem, saya harus berkorban. buat apa ?


jadi, kemaren sekitar pukul 9 malem.
aku Online lewat hape. terpaksa, soalnya lagi beol.
sekedar iseng, pengen nge-cek siapa yang lagi online.

setelah aku buka, situs ini ..

eh ternyata, cewe yang akhir akhir ini lagi aku taksir...
ONLINE.

uda deh... aku cari cara biar beol ku selese...
ngeden ampe mampus. dan cebokan... (untung ga lupa)


trus, aku naek ke atas. ke sudut tempat komputerku berada...

aku shock...

ceceku lagi make laptop, plus menggunakan koneksi internet.

aku : ce, masi lama makenya ?

cece : *angguk angguk*

aku : ARRGH !!


aku turun ke bawah,
jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malem...

aku berpikir, gimana caranya biar bisa berhubungan ama dia di internet...
pikir... pikir... pikir...

akhirnya aku nekat. aku ambil jaket, trus aku pergi keluar naek motor.
nyari warnet.

..................................


sekitar 2-3 warnet sudah kuhampiri...
tapi penuh semua,

bajingan... aku masih yakin. pasti ada warnet lain yang masih buka...

waktu aku mikir gitu, ternyata, BAN SEPEDA MOTORKU pecah.

padahal, aku belum dapet satu warnet pun...
akhirnya...

aku menggiring motorku, nyari warnet deket deket situ...

akhirnya, AKU DAPET WARNET JUGA !

dalam pikiranku : motornya taro dulu, ato warnet dulu ya.... kalo ngurus motor dulu, ntar dia keburu off lagi... hmm. uda ah, WARNET AJA DULU ! MOTOR URUSAN BELAKANG !


akhirnya aku ON juga.
belum juga seberapa lama aku ON, eh dia OFF...


cih, akhirnya aku ikutan OFF.
dan terpaksa mengurusi motorku, sebelum pulang ke rumah...


nah. itu dia yang aku maksud dengan berkorban.
berkorban bisa dengan jalan apapun.

tapi jujur aku jarang banget berkorban. apalagi buat cewe.
cih, harga diri jauh lebih tinggi.

tapi ga tau kenapa, kemaren aku bener bener niat... ampe nekat dorong motor segitu jauhnya buat nyari warnet...

.......................................................
tapi, kalo kita emang bener bener suka / sayang / cinta ama orang itu.
APAPUN (kecuali keluarga) yang kita korbanin, pasti kita relain...
.......................................................




hal yang sama, rupanya terjadi juga. DULU.

jaman jaman aku masih suka ama cewe itu.
cewe spesial yang jadi sumber inspirasi di tulisan ini .
cewe yang dulu aku bener bener sayangin, ampe aku berani ambil resiko bodoh.
haha..

jadi ceritanya,
dulu aku dapet rencanain pergi bareng temen temen,
ke SAMA-SAMA restaurant.

tempat buffet yakiniku...

nah, di hari yang bersamaan, paginya ada acara penggalian dana di gereja katedral.

nah, secara kebetulan. aku waktu itu ambil bagian dalam acara penggalian dana itu, kalo ga salah itu acara KONVENAS muda mudi deh...

jadi, satu hari sebelum acara itu. (hari sabtunya)
tepatnya setelah PD usai.

aku sempet nyatain perasaanku ke cewe itu.

jadinya, waktu hari minggu nya, pas penggalian dana.
aku ngobrol2 lama ama cewe itu. sekedar cara untuk mengembalikan suasana....

nah, waktu berlalu begitu cepet emang, kalo kita lagi ama orang yang kita bener2 sayang.

berhubung waktu berlalu begitu cepat, aku AMPE MALES pergi bareng ama temen-temenku itu.
aku malah pengen tetep di tempat itu, mau ngobrol ampe mati juga kuat...
tapi ternyata.

dapet telpon gini

angga : RIS, dimana khe ?!

aku : masi di gereja ngga... masih jaga stand konvenas itu... (alibinya)

angga : CEPETAN SINI RIS ! UDA DITUNGGU !

aku : eh iya, iya... ngga.. gimana kalo kalian duluan ke sana ?

angga : beh ris. jangan nae gitu, kita uda nungguin dari tadi ni...

aku : .............................. ya uda lah........................... aku kesana deh..... (nada ga bersemangat)



nah itu dia maksudku.
kalo kita emang lagi sayang ama orang.
pasti apapun yang kita lakuin.
biar itu butuh pengorbanan yang besar juga, APAPUN PASTI KITA LAKUKAN...




apa ada diantara kalian, yang juga ngerasa kayak gitu ?
:]





Tuesday, February 10

sesuatu yang tertinggal


Dia duduk di depanku. Memandangku jijik. Tatapannya membelah pikiranku, memilah-
milah memori tentangnya, yang kujaga rapat. Dia duduk di tempat itu, jauh lebih lama dari yang telah kutahu. Entah apa tujuannya berada di sini, tentunya berbeda tujuan denganku.

Aku benci keadaan ini, setelah aku menghindari dirinya selama mungkin. Aku kehilangan kata-kata untuk membuat diriku berada di atas perbincangan dengannya. Akhirnya aku hanya terpaksa diam, dan mempersilahkannya untuk memimpin jalannya perbincangan sepihak ini. namun, saat ini kebisuan melayang di atas perasaan kami. Aku dan dia terdiam.

Alasan yang kupunya untuk tetap diam, amat sangat kuat. Aku berhak diam, bahkan wajib untuk diam. Tindakanku padanya yang memaksaku untuk diam. Alasan yang konyol tentunya, aku hanya takut mencintainya lagi. Seperti dulu, seperti saat aku benar-benar dipenuhi oleh bayangannya, aromanya, dan senyumnya. Dan sesaat aku mencintainya, aku terdampar di pojok keputus-asaan. Tidak ada sebuah celah bernama kesempatan untukku. Oleh karena itu, aku diam. Diam dalam perasaanku, dan diam untuk mengakui kekalahanku.

Pilihanku saat ini masih sama, menunggu dia untuk berbicara denganku, atau tetap diam. Sejauh ini, dan dari perkembangan situasi yang kulihat. Belum ada pertanda dia akan membuka kata kata pengantar. Seperti “halo”, “apa kabar”, atau bahkan sekedar gumaman seperti “hmm”, “huh”, atau “dah”. Yang ada hanya tatapan mengancam.

Dulu aku terpesona akan tatapannya, tatapan matanya yang indah. Rangkaian alisnya yang menggantung di atas kedua matanya, membentuk sebuah ekspresi baru di wajahnya. Belum lagi warna matanya yang memikatku. Sungguh, aku terpesona akan segala hal darinya. Saat aku berbincang dengannya. Saat aku melihatnya berjalan dan menatap dunia. Aku suka tingkahnya.

Aku terpaku saat ini. malu akan diriku sendiri. Bahkan disaat seperti ini, aku masih bisa terpesona dengan dirinya. Masih bisa mengingat dirinya, dan lekuk karakternya. Biarkan saja dia pernah berbicara jahat tentangku. Aku memang jahat, aku memang bajingan, aku memang tidak sebanding dengannya. Oleh karena itu, aku tetap diam.

“kamu mau kemana ?”, dia mengiringi kalimatnya dengan senyuman tipis. Persis seperti kebiasaanya saat bicara dengan orang lain.

Aku memandangnya.

“oh, Cuma cari angin…”, aku berharap dia menanggapi jawabanku.
Dia terdiam.

Aku merasa bodoh. Memikirkan jawaban apa yang bisa kuraih, setelah aku mengeluarkan pernyataan kurang angin tersebut.

“tapi aku ga lihat toko ban tuh, apalagi di mall kayak gini”, jawabannya menggelitik perutku.

“kadang, ban juga butuh servis berkala.”, aku menimpali pernyataannya.

“hmm, jadi apa kabarnya ban ?”, pertanyaan yang sedikit menggigit diriku.

“yeah, kalo ban itu berarti aku, yah… agak kempis sedikit deh.”, Kujawab dengan cepat.

Pesanan minum kami berdua datang. Aroma kopi yang dikeluarkan dari minuman hitam itu menghipnotisku. Sedikit mencairkan rasa aneh berhadapan dengan Shina. Aku mulai terbiasa, dan tersembuh dari kebisuan.

“jadi, bagaimana ? masih ? sama si… itu.”, aku mengeluarkan pertanyaan yang sudah kutahu jawabannya.

Sungguh bodoh, tidak seharusnya aku mengeluarkan pertanyaan itu. sekalipun aku terhipnotis oleh aroma kopi, aku tidak seharusnya menjadi bodoh. Aku ingin berteriak saat ini.

“oh, masih kok.”, jawaban singkat yang tidak bernada. Sebuah respon yang telah kuduga. Aku salah langkah, dia pasti merasa risih denganku. Merasa bahwa hatiku masih sama seperti dulu. Menanti dirinya, menanti sebuah celah kecil untuk kuhancurkan. Dan otomatis, setelah dia tahu aku masih menanti dirinya. Dia akan menjaga sebuah celah itu sepenuh hatinya, agar tidak mengundangku masuk.

“aku sudah lama enggak lihat kamu lo, terakhir kita ketemu di perpisahan, habis itu kabarmu hilang gitu aja.”, Shina berbicara lagi padaku. Aku sedikit terhibur dengan perkataannya.

“kan udah aku bilang, kadang ban perlu servis berkala.”, aku mencoba membuat lelucon baru.

“aku enggak nyangka aja bisa ketemu kamu di tempat kayak gini, rasanya aneh aja.”, aku sedikit kecewa, leluconku dianggap angin lalu baginya. Tapi aku tetap saja tertarik dengan perkataannya.

“lho, kenapa ga nyangka ? waktu kan uda berjalan 5 tahun dari waktu kita SMA…semuanya bisa berubah”, aku menjawab pertanyaannya. Dengan sedikit penekanan.

“ya… tapi tetep aja terasa aneh gitu.”, dia mengeluarkan pernyataan singkat, dan melihat jam tangannya.

“ada apa ?”, aku bertanya padanya.

“maaf, tapi aku ada janji dengan seseorang. Kapan-kapan kita ketemu lagi aja.”, pernyataannya yang pertama membuatku kecewa, tapi pernyataannya yang kedua membuatku meloncat.

“tentu, kapan ?”, jawabku tanpa basa-basi.

“aku akan menghubungimu. Bye.”, dia menghirup sedikit kopinya, dan menyelesaikan perbincangan denganku.

Itu pertama kali aku bertemu dengannya. Setelah 5 tahun menghindar darinya.

……….


Suhu dalam mobil terasa nyaman bagiku. Cuaca di luar sangat bersahabat. Pengendara motor tampak berjubel dalam padatnya jalanan kota. Awan terbang melintasi kota, menimbulkan suasana baru yang hangat. Membawaku ke dalam kenangan sesaat. Yang memberikanku aroma itu, suasana lima tahun yang lalu.

Dulu, semua berakhir di malam perpisahan. Kenangan masa SMA akan mencapai titik pusatnya di momen itu. Semua orang terharu, mengingat mereka harus mencapai masa depannya. Mengingat mereka harus meninggalkan ritual tidak penting, yang mereka sukai saat SMA. Dan mengingat kisah klasik di gedung itu. Gedung yang sebenarnya menjemukan saat sekolah, gedung yang sebenarnya ingin kita tinggalkan. Namun saat perpisahan, semua terasa melekat di tempat itu. itulah rumah kita. Pembentuk pribadi dan kisah kita berikutnya.
Malam perpisahan itu juga yang membuatku tertambat dalam kisahku sendiri. Aku melihat begitu saja, Shina tentunya. Dia mendapatkannya, seseorang yang telah lama dia suka. Atau sayang. Atau bahkan cintai. Dia terlihat begitu senang, tersenyum dengan indahnya. Senyum yang tidak pernah bisa aku dapatkan saat berbicara denganku. Saat dia melihatku, dan menatapku dengan matanya yang indah, dia hanya bisa tersenyum tipis. Tipis sekali.
Aku tidak mundur begitu saja. aku masih mempertahankan perasaanku. Aku mencoba mendekatinya, menggali hatinya, dan mencoba membuat senyuman itu untukku. Aku berubah, aku merubah diriku menjadi lebih baik. Mengakrabkan diri pada hal-hal yang dulu kubenci. Menjadikan segalanya memihakku. Mengundang senyum di wajahnya. Senyum. Sebuah senyuman untukku.

Hal itu sedikit berhasil. Setidaknya menurutku sedikit berhasil. Dia mau membuka hatinya untukku, keluh-kesahnya dia tuangkan untukku, dia rangkum menjadi satu rangkaian kata yang menidurkanku, dalam ilusi singkat tentang dirinya. Dia tidak tahu, bahwa saat aku berbicara dengannya, saat dia menularkan perasaannya. Aku selalu memandang erat matanya, menggali lebih dalam lagi, apakah aku ada di bola matanya ?

Dia berbicara padaku berjam-jam lamanya saat itu. melalaikan tugas yang ada, dan hanya berbicara denganku. Saat kutanyakan apa yang membuatnya bisa membuka perasaannya padaku, dia hanya menjawab.
“kamu membuatku nyaman untuk bercerita”

Dia tidak pernah tahu. Bahwa aku memang selalu ada untuknya, aku memang ingin mendengarkan keluhannya, memandang masalahnya, agar dia bisa tersenyum padaku.
Dan saat dia mulai tersenyum.

aku menyayanginya. Dari segala sisinya, dan dari kelemahannya.
Aku hanya terlanjur terikat dengan hal ini.

Tapi, kenyataan mengusirku jauh darinya. Dia yang sudah memiliki seseorang. Tidak akan bisa menerima kehadiranku. Aku tidak punya kesempatan.

Dan setelah itu, aku pun mulai mencari banyak perantauan selainnya, mulai tidak memahami apa arti sebenarnya dari mencintai seseorang, dan mulai melompati batas. Aku hanya yakin, bahwa aku melakukan itu untuk melupakannya, untuk membiarkannya tersenyum pada seseorang lain. Aku benci seperti ini.

Dan benar, dia mengetahui perbuatanku. Perbuatan yang sangat tidak ditolerir oleh Shina. Dia benci dengan seseorang yang mempermainkan perasaan. Dan itu aku. Wajar kalau dia menutup dirinya dariku, agar bajingan sepertiku tidak menyakitinya juga.

Akhirnya, dia memandangku salah. Hanya salah. Akulah seorang yang salah. Yang tidak boleh lagi hadir dalam mimpinya.
Dan aku menghilang darinya 5 tahun yang lalu.


……….


1 bulan setelah pertemuan dengan Shina, tidak ada yang terjadi.
Aku masih hidup ditengah bayangannya. Bingung dengan keberadaannya dan perasaannya sebenarnya. Aku mau tahu apa yang terjadi dengannya akhir-akhir ini, dan sekali lagi menelisik hatinya.

“pip”, telepon genggam milikku berbunyi lemah.



“hei, jam 5 sore di mall kemarin,
Di kafe yang sama,
Di meja yang sama,”
-Shina

Aku tersenyum.

“oke”
- message sent

……….

Merasa kesal karena menunggu, sudah sering terjadi padaku. Aku hanya tidak suka momen momen mendebarkan seperti ini. aku hanya suka menunggu sesuatu yang sudah pasti. Meskipun aku senang bertemu dengan Shina, tapi aku lebih senang apabila dia lebih menghargai waktu.

Aku tersenyum kecil.
Aku melupakan satu hal yang sering dilakukannya, dia memang agak tidak menghargai waktu. Sebuah kebiasaan kecil, yang tak kusangka. Belum ditinggalkan dari identitasnya. Lag-lagi aku kalah oleh memoriku sendiri. Bodoh.
Dua cangkir kopi yang kupesan sudah datang. Aku merasa bodoh menunggu sendirian di tempat ini. Shina belum datang juga.
Kulihat di cangkir milik Shina, terdapat sebuah amplop kecil. Sarafku bergeliat. Kuambil amplop itu. aku melihat sekeliling.
Kemudian melihat tulisan di amplop itu.

“seseorang yang sedang menungguku, tolong baca surat ini”
-Shina

Keadaan ini menjurus ke sesuatu yang rasanya buruk. Aku juga benci keadaan seperti ini suatu keadaan yang memaksa kita menebak-nebak, apa yang sedang terjadi saat ini.
Kubuka amplop kecil itu, dan kukeluarkan surat di dalamnya.
Hatiku berdegup kencang.

“sejak saat aku memulai semuanya dengannya, aku tahu aku akan mendapat sesuatu yang berbeda darinya. Senyumnya yang memikat, selalu menghiburku disaat aku terjatuh atau lumpuh karena masalah. Sifatnya yang cerah dan selalu memberi pengaruh bagiku membuat hatiku menjadi nyaman saat berada didekatnya. Apa kamu tahu ? aku sudah begitu mencintainya hingga aku rela menutup hatiku untukmu.”

Aku menggigit kuku tanganku. Mencoba mencari pelampiasan akan perasaanku saat ini. hatiku hancur membaca penggalan pertama dari surat ini. aku merasa ada sesuatu yang meleleh di mataku. Tapi aku mencoba melanjutkan kisah ini.

“aku tahu bahwa kamu menyayangiku. Aku juga tahu bahwa akulah perhentianmu. Ibarat sebuah kapal yang menginginkan pelabuhan untuk merapat, dan menjalani hidup sebenarnya. Aku sangat tahu.”

“dulu kamu pernah bilang, untuk apa aku meneruskan hubunganku dengannya apabila hubungan ini hanya membuatku sedih. Dan aku jujur berkata, aku menyayanginya.
Aku memang sangat menyayanginya.”

“tapi kamu tahu ? tepat setelah kamu mundur dariku…

Aku terhenyak sesaat. Tidak sanggup membaca lanjutan surat itu. takut untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan dari kata kata dan guratan yang ditulisnya sendiri. Aku terjebak di kalimat ini.

Entah kenapa, meski aku takut. Huruf –huruf ini begitu membiusku untuk lebih terjebak dalam suasananya. Dan sekali lagi aku masuk ke dalam lingkupannya.

...dia”

Tanpa sadar, aku menelan ludah.

“wafat, karena kecelakaan mobil.”

“sungguuh tragis hidupnya, ayah dan ibunya masih selamat dalam peristiwa itu. namun dia dan kedua adiknya ternyata ditakdirkan untuk bertemu Sang Pencipta.”


“aku sempat kehilangan arah saat itu. aku berjuang, SENDIRIAN untuk memaku ulang dan menata perasaanku. Aku menangis dan menangis. Dia terlalu baik untukku, dan aku terlalu menyayanginya. Aku hancur saat itu.”

Aku kembali menghela nafas. Menghirup kopi pesananku yang sudah tidak lagi hangat. Rasa pahit kopi itu menyadarkanku. Selama ini aku melakukan kesalahan besar. Aku terlalu sibuk melindungi diriku sendiri. Tidak pernah aku mencoba memperhatikan Shina lagi. Dalam perjalanan selama 5 tahun ini, satu yang baru kusadari. Aku tidak melakukan apapun untuk seseorang yang kusayang, dan kucintai sepenuh hati. Aku hanya sebuah debu yang menghindar dari kenyataan abadi. Kenyataan bahwa seharusnya aku harus menjaganya, menjaganya dari balik kegelapan. Kegelapan yang tidak akan bisa dilihatnya dari sisi terangnya. Menjaganya dari tempat yang khusus, dan sesuatu waktu, aku bisa menyediakan tempat untuknya. Saat dia merasa sendiri, dan saat hatinya bisa terbuka untukku.

Aku melanjutkan membaca surat itu. Surat yang membuatku merasa berlubang.

“aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya bisa memandang matahari lagi. Aku lupa hawa dingin di pagi hari. Dan aku lupa apa rasanya menyayangi seseorang.”

“hingga sekitar beberapa saat yang lalu, aku bertemu denganmu. Aku tidak tahu bagaimana bisa perasaanku menjadi seperti ini. aku kembali “berbunga”. Kamu telah berhasil mengembalikan saat-saat kita 5 tahun yang lalu. Hanya dalam hitungan menit, aku dan kamu duduk bersama. Kau telah kembali membuatku nyaman berbicara denganmu.”

Aku tersenyum. Kalimat terakhir yang kubaca di surat ini. Mulai membuatku melambung tinggi. Jauh dibawa ke dalam pusaran kata menggetarkan, menghipnotisku lebih dalam lagi. Tenggelam dalam suasana.


“satu hal yang aku sesali. Kenapa kamu datang begitu terlambat ? kemana kamu selama ini ? selama sisa waktu yang aku punya ? kemana kamu ?”

“maafkan aku. Tapi semua sudah terlambat. Aku sudah pergi ke Perancis saat kamu membaca surat ini. Pesawatku berangkat 2 hari yang lalu. Aku menitipkan surat ini pada ayahku. Kamu tentu masih ingat ayahku kan ?”

“Maafkan aku, aku sudah lama memutuskan ingin melanjutkan studiku di sana. Aku sudah tidak mempunyai harapan lagi, apabila berada disini. Aku tidak yakin, meskipun aku sudah bertemu denganmu. Aku takut dengan nasibku sendiri. Oleh karena itu, aku tidak memberi tahu keadaanku padamu.”



Seketika aku langsung menunduk resah. Air mataku mengalir membasahi kemejaku. Kopi pesananku tak lagi layak diminum. Semuanya di dunia ini, menjadi terlihat buram.



“surat ini, kutujukan untukmu. Untuk seseorang yang kutahu, dalam lima tahun terakhir ini menghilang demi diriku. Aku bukan terlalu percaya diri. Aku hanya yakin bahwa kamu masih menyayangiku. Sampai setiap rambutmu berwarna putih, aku yakin bahwa kamu menyayangiku.”



“surat ini kubuat untukmu. Untuk menyelesaikan sesuatu yang tertinggal. Dan untuk membuat sebuah janji baru.”

“berjanjilah, bahwa kamu akan belajar untuk menungguku. Dan aku akan selalu tersenyum untukmu. Dan turut menantimu. Demi semua kata-kataku.”

-Shina





Aku tercekat. Aku membisu.
Tetesan terakhir dari air mataku telah hilang. Aku telah menyapunya. Kini dunia tidak lagi buram. Tapi jauh lebih buram dari apapun.

Duniaku selama ini, ternyata hanya terpikat pada perjalanan waktu 5 tahun ini.
Segalanya benar benar bisa berubah. Dan segalanya bisa terjadi.

Kali ini, aku memandang matahari melalui jendela. Dia bersinar terang, sedikit menyilaukan mataku. Sebuah cahaya terang yang menembus memoriku. Menyinari bagian kelam masa laluku. Menekankan bagian-bagian yang menandakan posisiku dengan Shina.

Kemudian, langit membakar matahari. Dan terganti oleh ribuan bintang dan nyanyian orang mati. Bangkit dari penjaranya, dan mengucapkan selamat tinggal padaku.
Selamat tinggal Shina.






~Aris Lazuardi

Wednesday, December 31

ginny weasley

kemarin nontn harry potter di channel entah apa itu.
liat ginny weasley.

lihatlah mukanya yang judes2 gimanaaa gitu...




dari dulu aku seneng banget ama yang namanya ni cewe.
bukan mukanya.

ato bodynya yang ga tau aslinya kayak apa.

tapi aku seneng banget sama KARAKTER-nya di novel.


terutama waktu di novel harry potter-half blood prince.
asyik banget.

waktu dialognya terakhir ama harry.
waktu harry nyoba mutusin dia.

gila.
aku jatuh cinta ama karakter ini.


trus tadi aku iseng nyari di internet.

ketemu quote bagus...
"I had always planned that Harry's true soul mate, which I stand by, is Ginny"
~
J.K. Rowling



so,
looks like the author is falling in love with this character too...


Monday, December 1

past ?

oke.
jadi. tadi buka plurk
dan.
liat plurk dari rico

hmm.
jadi inget salah seorang cewek.

dia dulu kakak kelasku.

dan kalo mau tau siapa dia.

silakan liat di postingan ini



oke.
jadi, aku coba cari namanya di facebook.

eh.
ketemu.

tapi aku terlalu takut buat nge-add dia.
jadi ya uda. aku batalkan saja.


oke.
aku inget lagi.
kejadian dulu.


dia itu cewek yang dulu aku pernah suka.



dan.
aku ga pernah melakukan tindakan apapun buat ngejer dia dulu.
entah karena ga punya kemampuan, keberanian, ato kesempatan.


tapi.
pernah satu kali aku ngelakuin hal nekat.

jadi dulu.
waktu acara perpisahan kelas XII.

saat itu aku masih kelas XI
dan cewe itu. uda kelas XII. dan dia uda mau lulus.

waktu perpisahan.
aku ama rico
bertugas buat slide, yang isinya foto2 anak kelas III.

kami menata foto2 itu. supaya pas diliat anak kelas III.
jadi berkesan gimanaaaa gitu.
secara, itu acara judulnya mellowrable moment.

yang temanya mengingat hal2 apa aja yang uda terjadi selama mereka (anak kelas XII) sekolah di Santo Yoseph.

dan.

tibalah waktu pemutaran slide itu.





dan. yeah.
di slide itu.
aku masukin foto cewe itu.

foto cewe yang kelas III, yang selama ini aku sering perhatiin.
cewe kelas III, yang bahkan ga pernah ngasi kesempatan buat ngobrol ama dia.
cewe kelas III, yang ga cantik, tapi imut kayak sandalku.

dan kemudian.

foto2 bergulirrr

bergulir...



anak2 kelas III ada yang kebawa suasana.

trus suasana hening...


lagu dari creed berputar di penjuru sekolah.

"Sad eyes follow me
But I still believe there?
something left for me
So please come stay with me ?
Cause I still believe there?
something left for you and me
For you and me
For you and me"




foto demi foto bermunculan..


dan.
sampailah di foto cewe itu.



bukannya suasana jadi tenang.

eh.
temen2ku malah mukul kepalaku.

"cihhh ! mentang2 naksirr ! baru dimasukinnn !"

"aaaaaa... arissss !!"

"ehh... aris suka ama cewe ini yaa ?"


trus jadinya.
anak kelas III laennya.
yang notabene temennya cewe itu.

bilang gini
"eh... dia suka ama ***** ya ???"

"aaaaaa... ***** ada yang naksirrr tuu"


mukaku terbakar...
aku malu banget.


aku ga tau cewe itu denger apa ngga.
dan aku ga tau cewe itu lagi liat slide yang diputer apa ngga...


tapi yang jelas....



aku ga nyesel uda buat slide itu...


hmmm...




~don't regret the past...
Aris Lazuardi