Tuesday, April 7

jawaban janji

Sudah cukup lama aku berjalan mencari sesuatu. Orang-orang melihatku sambil mencoba

menebak-nebak apa yang kulakukan. Dalam cuaca panas seperti ini, seharusnya mereka semua

tidak mempedulikan apa yang terjadi pada orang lain. Mereka sepatutnya mengkhawatirkan

kondisi mereka sendiri. Tapi daya tarik yang kukeluarkan, jauh lebih besar daripada kesusahan

yang mereka rasakan. Tentu saja aku tidak semudah itu memperlihatkan maksudku, aku tidak

memperlihatkan rasa khawatirku pada orang-orang yang mengamatiku. Aku tidak membiarkan

mereka menebak perasaanku, atau apa tujuanku. Karena, sebenarnya. Aku juga belum

mengetahui apa yang akan muncul, dari susunan anak tangga itu.



Menurut perhitunganku, memang sudah seharusnya dia muncul. Waktu sudah memaksa kami

untuk berkumpul lagi. Sudah memaksa kami untuk membuka memori di masa lalu, sebuah janji

yang harus tergantung di balik waktu.

Dan aku tetap menunggunya di atas jembatan ini, sambil memandang lautan yang tertimpa garis

langit.




“apa yang dari tadi, kau…”, seorang pria berumur setengah abad menegurku. Bau

rokok kretek yang kuat, membayang di nafasnya.


“kau… sebenarnya,apa yang kau lakukan ?”, pria itu menyelesaikan kalimatnya.



Aku belum mendapatkan maksud dari perkataan pria itu. karena pikiranku masih tertinggal

jauh di ujung lautan. Memandang sebuah senja yang dihiasi langit yang terbakar.




“maaf, maksud anda … ?”, aku mencoba mengambil kembali isi kepalaku.


“ya, apa maumu ? dari tadi siang aku memperhatikanmu… sepertinya kau menunggu

seseorang ?”, pria tua itu memandangku dengan kuat, melihatku melalui dua bola

matanya yang telah dimakan katarak.


“dari yang kulihat, sepertinya aku baik baik saja…”, aku menutupi keadaanku.


Kenapa ? tentu saja, karena aku memang tidak suka masalahku diurusi oleh orang

lain.


“anak muda sepertimu, berdiam diri selama berjam-jam diatas jembatan ini, itu

sangat membuat orang tua sepertiku menjadi gelisah.”, orang tua itu mencoba

menggaliku, dengan menggambarkan kondisinya.


“apa yang membuatmu resah ? aku bahkan tidak melihatmu dari tadi, apa kau masih

hidup ?”, aku mengeluarkan pernyataan yang jelas jelas menunjukkan, bahwa aku

tidak suka diganggu.


“ada dua kemungkinan, kenapa ada anak muda sepertimu bisa betah berlama-lama

di tempat seperti ini.”, dia memulai teori yang biasa dikemukakan orang tua. Teori

bodoh yang mengatasnamakan pengalaman hidupnya.


“sadarlah nak, ini tempat untuk orang tua ! orang-orang seumurku menghabiskan

waktunya di tempat seperti ini, untuk menyimpan kenangan indah akan dunia,

sebelum kita mati! Sedangkan, kau harusnya masih memiliki banyak kesempatan

untuk melihat banyak hal lain, selain matahari bodoh dan langit yang tak kunjung

runtuh !”, kakek ini kelamaan membuat perutku mual. Firasatku mengatakan dia

adalah seorang mantan penyair, atau mungkin terobsesi menjadi penyair.


“ya, ya, lalu menurutmu, apa yang terjadi denganku ? sehingga aku memutuskan

untuk berdiam diri di tempat ini ? keluarkan jawaban yang menurutku bagus, lalu

aku akan menceritakan semuanya padamu.” , aku mencoba mengujinya. Apakah

pengalaman hidupnya, bisa menebak jalan hidupku.


“sederhana, kau sedang menunggu gadis yang sepertinya tidak akan pernah

datang.”, dia menjawab pertanyaanku dengan tepat.


Aku benci orang tua ini. pikirku.



….. …..



Matahari semakin meninggi, meninggalkan lautan di bawahnya. Sinarnya menerangi langit,

membakar jalan, dan mengukir keringat.

Kepalaku terasa pusing, menunggu sebuah bayangan untuk tiba di atas jembatan ini. Sementara

pandanganku melemah, dilumpuhkan sinar matahari, aku mencoba berteduh di pinggiran jalan.

Kali ini aku tidak menunggu sendirian. Anak muda dengan seorang tua, mencoba berdiskusi

tentang sebuah kenyataan alam. Wanita, dan kejadiannya.


“pernah menanti selama ini sebelumnya ?”, pertanyaan mudah bagiku.


“belum.”, aku menjawab singkat.


“kamu yakin bahwa gadis itu menyukaimu ?”, pertanyaan mudah yang kedua.


“bukan menyukaiku, dia menyayangiku, untuk seumur hidupnya.”, jawabku yakin.


“dan, kamu menyukainya ?”, kakek itu lagi-lagi bertanya. Tapi kali ini

pertanyaannya terdengar bodoh.


“selama aku sanggup, aku akan menyayanginya.”, kujawab jujur.


“maksudmu, kamu tidak sanggup untuk menyayanginya seumur hidupmu ?”, nada

bicara kakek ini terkesan sedikit meninggi.


“untuk seumur hidupku, aku sanggup. Tapi setelah aku mati, mungkin aku tidak

sanggup lagi.”, kujawab sekenanya.


“mati ? kenapa kau harus mati ?”, lagi lagi pertanyaan bodoh.


“saat aku tua nanti, dan menjadi sepertimu, aku akan mengalami kehidupan

menyedihkan, dimana aku harus berjalan menggunakan tongkat, memakai kacamata

untuk membaca, dan akan digerogoti penyakit, kemudian mati dengan indahnya.”,

begitu jawabku.



Aku terkesan dengan jawabanku sendiri.




“itu adalah proses sebelum kau mati, yang aku tanya, kenapa kau harus mati ?”,

kakek ini terlihat tidak menghargai jawaban yang kuberikan.


“entahlah, mungkin karena aku telah ditinggalkan seseorang.”, mulutku bergerak

sendiri, saat aku menjawab hal ini.


Mulai dari sini, pandanganku kembali menerawang jauh. Melihat bentuk-bentuk awan yang

mengambang di angkasa. Mencoba menangkap sinar matahari yang menembus dunia, mencoba

meresapi belaian angin yang hangat. Sejenak, aroma gadis itu muncul di ingatanku. Gadis itu

memiliki sesuatu, yang selalu membuatku memandangnya kemanapun ia pergi. Caranya dia

berjalan, terlihat mengagumkan. Dan saat dia tersenyum, aku jatuh cinta padanya. Selamanya.




“sampai berapa lama kau berniat menunggu gadis ini ?”, pertanyaan kakek ini

membuyarkan bayanganku.


“dalam satu hari ini, aku akan menyelesaikan semuanya.”, kujawab dengan mantap.

Tanpa nada takut sedikitpun.


“bagaimana jika kau menceritakan padaku, tentang gadis itu ?”




……….



Tidak ada pria di dunia ini, yang masih bisa menangis setelah cintanya seumur hidup. Akhirnya

berada di depannya. Mengamatinya dengan tekun, menatap kedua bola matanya dengan

pandangan dalam. Mencoba menggali setiap lekuk perasaannya, yang isinya jelas mengatakan,

bahwa lelaki itu menyayangi seseorang di depannya. Gadis itu tersenyum, tipis.




Aku tidak pernah berhenti terkesan, saat mengamati gadis itu. Biarpun gadis itu hanya

menunjukkan senyum tipisnya padaku. Aku sudah bisa terbang tinggi. Perasaanku saat ini,

persis seperti seorang anak kecil, yang gembira mendapatkan sepeda pertamanya. Barang yang

sudah lama diimpikan, akhirnya berada di depan anak kecil itu, sebagai miliknya. Dan aku,

adalah anak kecil itu. Seorang pemimpi yang akhirnya mendapatkan sesuatu dari balik

mimpinya.




“sampai kapan kamu mau melihatku seperti itu ?”, senyuman tipis gadis itu, berubah

menjadi kata kata yang membuyarkan duniaku.


“sampai wajahmu berlubang.”, aku mencoba membuat gadis itu mengeluarkan

ekspresi, lebih dari senyuman tipisnya.


“kadang kamu bisa begitu mengesalkan.”, gadis itu malah mengerinyitkan dahinya.

Aku gagal membuatnya tersenyum.


“dan sering, kamu membuatku tersenyum.”, kucoba lagi untuk membuatnya

tersenyum.



Gadis itu menjulurkan lidahnya. Tampangnya mencoba menghinaku, seakan-akan dia tidak

butuh rayuan dariku. Tapi dia tidak selihai itu. Aku tahu, bahwa dalam hatinya dia tersenyum

padaku.


Aku memasukkan tanganku ke dalam kantongku. Memegang erat sebuah kotak kecil. Mukaku

terlihat menegang saat meraba kotak itu, sebuah kotak yang berisi modal kehidupanku. Aku

ingin melamarnya saat ini. Dengan cincin ini.


“ada apa denganmu ? perutmu sakit ?”, gadis itu bertanya padaku. Sayang

pertanyaannya terdengar tidak nyaman di telinga.


“mungkin ya, tapi mungkin ada sesuatu yang lebih rumit dari sakit perut.”, aku

mencoba menutupi keadaan.



Aku masih berpikir, lebih tepatnya mencari sebuah cara untuk menyerahkan cincin ini.

jantungku berdetak cepat, memompa darah ke seluruh tubuhku. Telingaku berdengung keras,

menandakan bahwa adrenalinku sedang terpacu deras. Tanpa sadar, aku terbatuk.




“ada apa denganmu ?”, gadis itu bertanya padaku. Mukanya terlihat khawatir.


“Tidak ada apapun, memang ada yang aneh dengan sebuah batuk ?”, aku mencoba

menutupi kecemasanku.


“bukan batuk ! tapi raut mukamu ! keringatmu tiba tiba mengucur deras !”, gadis itu

menaikkan nadanya, kata demi kata.



Aku merasa bodoh. Tidak kusangka, isi hatiku yang gelisah, bisa terpampang jelas di raut

wajahku. Jauh di dalam hatiku, aku lega. Tentunya karena ini saat yang tepat untuk

menyerahkan cincin ini. Dan melamarnya.




Kukeluarkan cincin itu dari kotaknya. Dan aku menunggu reaksi pertama darinya.




“kau bercanda.”, reaksi yang dikeluarkannya mementahkan seluruh keberanianku.


“tidak, tentu aku serius.”, kujawab cepat, mantap.


“kau mau aku menikahimu ?”, dia bertanya, ragu.


“bukan hanya itu, tapi untuk mencintaiku seterusnya, hingga rambut putih

terakhirku telah sirna menjadi abu.”, kuturunkan nadaku di kata-kata terakhir,

mungkin terdengar pelan baginya.



Dia terdiam. Lama .




….. …..



“jadi, apa yang menyebabkanmu yakin, u

ntuk melamarnya sebagai istrimu ?”, pria tua ini menghentikan ceritaku tiba-tiba.


“dia terlalu sempurna bagiku, aku takut bahwa suatu hari nanti, akan ada pria lain di

hidupnya.”, jawabku.



Kulihat pria tua itu tiba tiba tertawa pelan. Kacamata yang digunakannya terlihat bergoyang,

saat dia membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa. Dia berhenti tertawa, dan berdeham

kencang.




“maaf, aku hanya teringat sesuatu yang lucu.”, dia mengeluarkan pernyataan itu

sembari memandang jauh ke arah lautan. Dan menyelesaikan tawanya yang

tertinggal.


“satu yang kudapat dari ceritamu, kau hanya takut kehilangan gadis itu, padahal kau

sama sekali tidak mengenalnya dekat.”, pria itu meneruskan kata-katanya.


“aku mengenalnya dekat. Sangat dekat. Hanya dia yang melarangku untuk lebih

dekat lagi.”, aku menjawab dengan ketidak-pastian. Tentu saja, karena setengah dari

diriku setuju akan perkataan pria itu.



Aku

memang tidak mengenalnya terlalu dekat.




……….



Waktu berlalu sangat lama. Aku mencoba menghabiskan waktuku dengan mengamati sekitarku.

Pelan-pelan aku menyadari bahwa ada seorang penyanyi yang berada di sebuah panggung kecil,

diiringi lantunan kunci-kunci piano. Suara

penyanyi itu membaur dengan indahnya dalam suasana malam ini, membuatku sadar, bahwa

aku sedang menunggu sesuatu.




Aku menunggu sebuah jawaban. Hingga, akhirnya gadis di depanku menjawab.




“maaf, aku benar-benar tidak bisa menjawabnya saat ini.”, jawabannya membuatku

semakin jatuh ke bawah.


“Kenapa ? Aku tidak pantas untukmu ? Aku tidak pantas untuk mencintaimu sampai

mati?”, aku bertanya cepat, mencoba mendapatkan sebuah jawaban darinya.


“bukan, tapi aku takut akan keadaanku sendiri ! aku tahu, sangat tahu ! bahwa kau

pasti akan menyayangiku seperti nyawamu sendiri !”, gadis itu mulai menjawab

dengan nada membentak. Dia mengambil tasnya, mencoba beranjak pergi.


“Jika aku tidak pantas bersanding denganmu, maka berikan aku jalan lain untuk

tetap hidup !”, kugenggam erat tangannya. Aku tidak pernah menggenggam

tangannya seerat ini, tidak pernah melukainya sedalam dia melukaiku saat ini. Tapi

apapun yang terjadi sekarang, hanya satu yang kuminta. Jawaban.


“Kau bukan tidak pantas bersanding denganku ! tapi aku tidak bisa memberikan

jawabanku saat ini ! jangan membuatku membencimu !”, dia menaikkan nadanya.

Lagi.


“lalu kapan ?”, jelas sekali, mataku mulai berkaca-kaca.


“bulan depan, lihatlah ke seberang lautan, maka aku akan ada disana, dan

memberikanmu sebuah jawaban !”, dia menyelesaikan kata-katanya, dan pergi.



Dan itu terakhir kali aku melihatnya.




……….



“Sepertinya aku sudah tahu tujuanmu

berada disini.” Suara berat pria itu, membayang di tengah kencangnya angin pesisir.


“Ya, dan kukira ini saatnya bagimu untuk bercerita.”, aku mencoba mencairkan

suasana dengan pria tua itu. Aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku dengan

berbincang sedikit dengannya.


“Aku juga memiliki satu tujuan, dengan berada di tempat ini.”, pria tua itu berkata

pelan. Dan tiba-tiba dia mengambil sebungkus rokok dari kantong celananya.


“Seingatku orang tua tidak sepantasnya untuk merokok.”, aku bercanda ringan.


Ada saat-saat tertentu, dimana orang tua sepertiku akan mengeluarkan kebiasaan

masa mudanya lagi.” Dia mengucapkan kata katanya, dengan matanya yang tajam

mencoba menatapku.



Angin dingin mulai bertiup di sini. Matahari tidak lagi berada di atas kepala, tapi sudah jauh

beranjak pergi dari tempat kekuasaannya. Di ujung langit sore, cahaya matahari tampak

memecah cakrawala, langit berwarna oranye, dan lautan menjadi tenang. Sementara asap rokok

keluar dari mulut sang pria tua. Aku mendengarkan kisah pria tua ini.




“ Cucuku menyuruhku ke tempat ini, beberapa minggu yang lalu, sebelum dia

menjalani operasi cangkok jantungnya.”, dia berkata pelan, sambil memandang jauh

ke tengah lautan.


“dan kamu menepatinya, kau benar-benar kakek yang baik.”, aku berkata ringan.


“tentu saja aku harus menepatinya, karena dia tidak bisa menepati janjinya dengan

seseorang di tempat ini….”, kakek itu menghentikan perkatannya tiba tiba.


“apa yang terjadi dengan cucumu ?”, aku bertanya padanya.


“sejak operasi itu, dia masih belum sadar hingga saat ini.”, dia menundukkan

kepalanya.


“jadi, jelaskan apa yang dikatakan cucumu, mungkin itu adalah sesuatu yang

kutunggu seharian ini.”, kalimatku ini menandakan satu bagian di cerita ini.


“dia meminta maaf, khususnya pada seorang lelaki yang menunggunya di tempat

ini.”, pria tua itu menegakkan kepalanya lagi.


“katakan padanya bahwa aku memaafkannya.”, aku memegang keningku. Menahan

tangis.


“dan, ada satu hal yang ditekankannya, dia ingin menjadi istrimu, kelak, saat dia

bangun dari istirahatnya yang panjang.”, dia menyelesaikan ceritanya di kalimat ini.

aku yakin.



Dan,

cahaya matahari sore menyilaukanku, membuatku menyipitkan mataku. Air mataku

berjatuhan, membasahi leher ku. Membasahi tanah ini. Dunia ku berada di ujung jembatan ini, di

sebuah sudut bernama ketidakpastian. Menunggu seseorang yang kucintai, untuk menyambut

tanganku disini. Di tempat yang dia janjikan.




“sadarlah, dia tidak ada disini hari ini, dan esok juga. Satu tahun ini, kau sudah

menghabiskan waktumu di tempat ini. menunggu Senja tiba.”, kakek dari gadis itu,

mencoba menasihatiku.


“tapi aku akan selalu berada disini. Menunggu tangannya menjemputku dari tempat

ini. Selalu disini.”, aku berkata tulus.



Dan walaupun aku menghabiskan waktuku bertahun-tahun di tempat ini. Walaupun kakek itu

selalu mengajakku berbicara setiap aku menunggu. Walaupun berkali-kali aku menangis setelah

mendengar cerita sesungguhnya. Aku tetap disini, membatu hingga gila. Demi sebuah janji

darinya, untuk kami.


~Aris Lazuardi

No comments: